Jumat, 07 Juni 2013

Makalah Kimono

MAKALAH KIMONO
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Nihon Bunka

Disusun Oleh :
Farid Fahruddin Noor (1125110600111004)
Lia Aprilina (125110600111003)
Nur Ayu Permata Sari (1251106001110037)
Titik Novi Jayanti (125110601111018)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DAN SASTRA BAHASA JEPANG
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Dalam makalah ini kami membahas tentang “Kimono” yaitu pakain tradisional Jepang. Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman tentang kebudayaan jepang.
Pemahaman tentang kebudayaan jepang sangat penting dipahami, karena dari kebudayaan itulah kita akan mengetahui tentang kehidupan masyarakat jepang. Serta lebih mendalami tentang jepang secara utuh.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian. Amin…

Malang, 18 April 2013
            Penulis                  


                                                                                                                        Kelompok 7



DAFTAR ISI
Kata Pengantar                                                                                                           i
Daftar Isi                                                                                                                     ii
Bab I PENDAHULUAN                                                                                           iii
a.       Latar Belakang                                                                                                      iii
b.      Rumusan Masalah                                                                                                 iii
Bab II ISI 1
a.       Pengertian Kimono                                                                                                1
b.      Sejarah Kimono                                                                                                     2
c.       Jenis-Jenis Kimono                                                                                               8
d.      Falsafah Kimono                                                                                                   12
e.       Aksesori Kimono                                                                                                  13
f.       Cara pembuatan kimno                                                                                         15
Bab III PENUTUP                                                                                                     17
Kesimpulan                                                                                                                 17
Saran                                                                                                                           17
DAFTAR PUSTAKA                                                                                                18







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kimono adalah pakaian tradisional Jepang terutama yang dikenakan oleh perempuan. A, panjang dan longgar, T-berbentuk jubah dengan kerah lebar dan lengan yang melekat, itu dijamin dengan sabuk, yang dikenal sebagai “obi.” Kata “Kimono” berasal dari dua kata “ki” (berarti “pakai”) dan “mono” (berarti “sesuatu”). Kimono secara tradisional terbuat dari sepotong kain, disebut “tan.” Kapas ringan paling mudah bagi pemula untuk; sutra atau satin sangat ideal untuk dicapai
Beberapa catatan sejarah mencatat ada beberapa kimono-kimono yang berlaku di masyarakat Jepang pada waktu itu. Di Jepang sendiri memiliki bentuk-bentuk pakaian tradisional yang hampir mirip dengan kimono, namun dengan berkembangnya zaman pakaian tersebut kini di klasifikasikan menjadi bagian-bagian dari kimono.
Dengan begitu menariknya bahasan tentang kimono pentingnya akan pengetahuan mengenai budaya Jepang, maka kami akan membahas beberapa hal yang berkaitan dengan kimono baik itu sejarah, bentuk maupun cara pemakaianya.


B.     Rumusan Masalah
·         Apa pengertian dari kimono?
·         Bagaimana catatan sejarah mengenai kimono?
·         Apa saja jenis-jenis dari kimono?
·         Apa falsafah dari kimono?
·         Apa saja aksesoris yang dapat dipakaikan pada kimono?
·         Bagaimana cara pembuatan kimono?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN KIMONO
Kimono (着物) adalah pakaian tradisional Jepang. Arti harfiah kimono adalah baju atau sesuatu yang dikenakan (ki berarti pakai, dan mono berarti barang).
Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf "T", mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagianperut atau pinggang, dan diikat di bagian punggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah zouri atau geta.
Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode. Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiriseijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono. Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi Go San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryoutei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).
Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri dari furisode dan uchikake (mantel yang dikenakan di atas furisode). Furisode untuk pengantin wanita berbeda dari furisode untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan untuk furisode pengantin diberi motif yang dipercaya mengundang keberuntungan, seperti gambar burung jenjang. Warna furisode pengantin juga lebih cerah dibandingkan furisode biasa. Shiromuku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.
Sebagai pembeda dari pakaian Barat (yōfuku) yang dikenal sejak zaman meiji, orang Jepang menyebut pakaian tradisional Jepang sebagai wafuku (和服, pakaian Jepang). Sebelum dikenalnya pakaian Barat, semua pakaian yang dipakai orang Jepang disebut kimono. Sebutan lain untuk kimono adalah gofuku (呉服). Istilah gofuku mulanya dipakai untuk menyebut pakaian orang negara Dong Wu (bahasa Jepang : negara Go) yang tiba di Jepang dari daratan Cina.

B.     SEJARAH KIMONO
                              I.            Zaman Jomon dan zaman Yayoi


                  Pakaian wanita pada sekitar tahun 1870
Kimono zaman Jomon dan zaman Yayoi berbentuk seperti baju terusan. Dari situs arkeologi tumpukan kulit kerang zaman Jomon yang disebut haniwa. Pakaian atas yang dikenakan haniwa disebut kantoi (貫頭衣).
Dalam Gishiwajibden (buku sejarah Cina mengenai tiga negara) ditulis tentang pakaian sederhana untuk laki-laki. Sehelai kain diselempangkan secara horizontal pada tubuh pria seperti pakaian biksu, dan sehelai kain dililitkan di kepala. Pakaian wanita dinamakan kantoi. Di tengah sehelai kain dibuat lubang untuk memasukkan kepala. Tali digunakan sebagai pengikat di bagian pinggang.
Masih menurut Gishiwajinden, kaisar wanita bernama Himiko dari Yamataikoku (sebutan zaman dulu untuk Jepang) "selalu mengenakan pakaian kantoi berwarna putih". Serat rami merupakan bahan pakaian untuk rakyat biasa, sementara orang berpangkat mengenakan kain sutra.
                           II.            Zaman Kofun
Pakaian zaman kofun  mendapat pengaruh dari daratan Cina, dan terdiri dari dua potong pakaian: pakaian atas dan pakaian bawah. Haniwa mengenakan baju atas seperti mantel yang dipakai menutupi kantoi. Pakaian bagian bawah berupa rok yang dililitkan di pinggang. Dari penemuan haniwa terlihat pakaian berupa celana berpipa lebar seperti hakama.
Pada zaman Kofun mulai dikenal pakaian yang dijahit. Bagian depan kantoi dibuat terbuka dan lengan baju bagian bawah mulai dijahit agar mudah dipakai. Selanjutnya, baju atas terdiri dari dua jenis kerah:
·                     Kerah datar sampai persis di bawah leher (agekubi)
·                     Kerah berbentuk huruf "V" (tarekubi) yang dipertemukan di bagian dada.
                       III.            Zaman Nara
Aristokrat zaman Asuka bernama Pangeran shotoku menetapkan dua belas strata jabatan dalam istana kaisar (kan-i jūnikai). Pejabat istana dibedakan menurut warna hiasan penutup kepala (kanmuri). Dalam kitab hukum Taiho Ritsutryo imuat peraturan tentang busana resmi, busana pegawai istana, dan pakaian seragam dalam istana. Pakaian formal yang dikenakan pejabat sipil (bunkan) dijahit di bagian bawah ketiak. Pejabat militer mengenakan pakaian formal yang tidak dijahit di bagian bawah ketiak agar pemakainya bebas bergerak. Busana dan aksesori zaman Nara banyak dipengaruhi budaya Cina yang masuk ke Jepang. Pengaruh budaya Dinasti Tangikut memopulerkan baju berlengan sempit yang disebut kosode untuk dikenakan sebagai pakaian dalam.
Pada zaman Nara terjadi perubahan dalam cara mengenakan kimono. Kalau sebelumnya kerah bagian kiri harus berada di bawah kerah bagian kanan, sejak zaman Nara, kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Cara mengenakan kimono dari zaman Nara terus dipertahankan hingga kini. Hanya orang meninggal dipakaikan kimono dengan kerah kiri berada di bawah kerah kanan.
                        IV.            Zaman Heian
Menurut aristokrat Sugawara Michizane, penghentian pengiriman utusan Jepang untuk Dinasti Tang (kentoshi) memicu pertumbuhan budaya lokal. Tata cara berbusana dan standardisasi protokol untuk upacara-upacara formal mulai ditetapkan secara resmi. Ketetapan tersebut berakibat semakin rumitnya tata busana zaman Heian. Wanita zaman Heian mengenakan pakaian berlapis-lapis yang disebut jūnihitoe. Tidak hanya wanita zaman Heian, pakaian formal untuk militer juga menjadi tidak praktis.
Ada tiga jenis pakaian untuk pejabat pria pada zaman Heian:
·                     Sokutai (pakaian upacara resmi berupa setelan lengkap)
·                     I-kan (pakaian untuk tugas resmi sehari-hari yang sedikit lebih ringan dari   sokutai)
·                     Noshi (pakaian untuk kesempatan pribadi yang terlihat mirip dengan i-kan).
Rakyat biasa mengenakan pakaian yang disebut suikan atau kariginu (狩衣), arti harafiah: baju berburu). Di kemudian hari, kalangan aristokrat menjadikan kariginu sebagai pakaian sehari-hari sebelum diikuti kalangan samurai.
Pada zaman Heian terjadi pengambilalihan kekuasaan oleh kalangan samurai, dan bangsawan istana dijauhkan dari dunia politik. Pakaian yang dulunya merupakan simbol status bangsawan istana dijadikan simbol status kalangan samurai.

                           V.            Zaman Kamakura dan zaman Muromachi
Padazaman Sengoku, kekuasaan pemerintahan berada di tangan samurai. Samurai mengenakan pakaian yang disebut suikan. Pakaian jenis ini nantinya berubah menjadi pakaian yang disebut hitatare. Pada zaman Muromachi, hitatare merupakan pakaian resmi samurai. Pada zaman Muromachi dikenal kimono yang disebut suō (素襖), yakni sejenis hitatare yang tidak menggunakan kain pelapis dalam. Ciri khas suō adalah lambang keluarga dalam ukuran besar di delapan tempat.
Pakaian wanita juga makin sederhana. Rok bawah yang disebut mo () makin pendek sebelum diganti dengan hakama. Setelan mo dan hakama akhirnya hilang sebelum diganti dengan kimono model terusan, dan kemudian kimono wanita yang disebut kosode. Wanita mengenakan kosode dengan kain yang dililitkan di sekitar pinggang (koshimaki) dan/atau yumaki. Mantel panjang yang disebut uchikake dipakai setelah memakai kosode.
                        VI.            Awal zaman Edo
Penyederhaan pakaian samurai berlanjut hingga zaman Edo. Pakaian samurai zaman Edo adalah setelan berpundak lebar yang disebut kamishimo (). Satu setel kamishimo terdiri dari kataginu (肩衣) dan hakama. Di kalangan wanita, kosode menjadi semakin populer sebagai simbol budaya orang kota yang mengikuti tren busana.
Zaman Edo adalah zaman keemasan panggung sandiwara kabuki. Penemuan cara penggandaan lukisan berwarna-warni yang disebut nishiki-e atau ukiyo-e mendorong makin banyaknya lukisan pemeran kabuki yang mengenakan kimono mahal dan gemerlap. Pakaian orang kota pun cenderung makin mewah karena iking meniru pakaian aktor kabuki.
Kecenderungan orang kota berpakaian semakin bagus dan jauh dari norma konfusianisme ingin dibatasi oleh Kenshogunan Edo. Secara bertahap pemerintah keshogunan memaksakan kenyaku-rei, yakni norma kehidupan sederhana yang pantas. Pemaksaan tersebut gagal karena keinginan rakyat untuk berpakaian bagus tidak bisa dibendung. Tradisi upacara minum teh menjadi sebab kegagalan kenyaku-rei. Orang menghadiri upacara minum teh memakai kimono yang terlihat sederhana namun ternyata berharga mahal.
Tali pinggang kumihimo dan gaya mengikat obi di punggung mulai dikenal sejak zaman Edo. Hingga kini, keduanya bertahan sebagai aksesori sewaktu mengenakan kimono.
                    VII.            Akhir zaman Edo
Politik isolasi (sakoku) membuat terhentinya impor benang sutra. Kimono mulai dibuat dari benang sutra produksi dalam negeri. Pakaian rakyat dibuat dari kain sutra jenis crape lebih murah. Setelah terjadi kelaparan zaman Temmei (1783-1788), Keshogunan Edo pada tahun 1785 melarang rakyat untuk mengenakan kimono dari sutra. Pakaian orang kota dibuat dari kain katun atau kain rami. Kimono berlengan lebar yang merupakan bentuk awal dari furisode populer di kalangan wanita.
                 VIII.            Zaman Meiji dan zaman Taisho
Industri berkembang maju pada zaman Meiji. Produksi sutra meningkat, dan Jepang menjadi eksportir sutra terbesar. Harga kain sutra tidak lagi mahal, dan mulai dikenal berjenis-jenis kain sutra. Peraturan pemakaian benang sutra dinyatakan tidak berlaku. Kimono untuk wanita mulai dibuat dari berbagai macam jenis kain sutra. Industri pemintalan sutra didirikan di berbagai tempat di Jepang. Sejalan dengan pesatnya perkembangan industri pemintalan, industri tekstil benang sutra ikut berkembang. Produknya berupa berbagai kain sutra, mulai dari kain krep, rinzu, omeshi, hingga meisen.
Tersedianya beraneka jenis kain yang dapat diproses menyebabkan berkembangnya teknik pencelupan kain. Pada zaman Meiji mulai dikenal teknik yuzen, yakni menggambar dengan kuas untuk menghasilkan corak kain di atas kain kimono.
       Sementara itu, wanita kalangan atas masih menggemari kain sutra yang bermotif garis-garis dan susunan gambar yang sangat rumit dan halus. Mereka mengenakan kimono dari model kain yang sudah populer sejak zaman Edo sebagai pakaian terbaik sewaktu menghadiri acara istimewa. Hampir pada waktu yang bersamaan, kain sutra hasil tenunan benang berwarna-warni hasil pencelupan mulai disukai orang.
Tidak lama setelah pakaian impor dari Barat mulai masuk ke Jepang, penjahit lokal mulai bisa membuat pakaian Barat. Sejak itu pula, istilah wafuku dipakai untuk membedakan pakaian yang selama ini dipakai orang Jepang dengan pakaian dari Barat. Ketika pakaian Barat mulai dikenal di Jepang, kalangan atas memakai pakaian Barat yang dipinjam dari toko persewaan pakaian Barat.
Di era modernisasi Meiji, bangsawan istana mengganti kimono dengan pakaian Barat supaya tidak dianggap kuno. Walaupun demikian, orang kota yang ingin melestarikan tradisi estetika keindahan tradisional tidak menjadi terpengaruh. Orang kota tetap berusaha mempertahankan kimono dan tradisi yang dipelihara sejak zaman Edo. Sebagian besar pria zaman Meiji masih memakai kimono untuk pakaian sehari-hari. Setelan jas sebagai busana formal pria juga mulai populer. Sebagian besar wanita zaman Meiji masih mengenakan kimono, kecuali wanita bangsawan dan guru wanita yang bertugas mengajar anak-anak perempuan.
Seragam militer dikenakan oleh laki-laki yang mengikuti dinas militer. Seragam tentara angkatan darat menjadi model untuk seragam sekolah anak laki-laki. Seragam anak sekolah juga menggunakan model kerah berdiri yang mengelilingi leher dan tidak jatuh ke pundak (stand-up collar) persis model kerah seragam tentara. Pada akhir zaman Taisho, pemerintah menjalankan kebijakan mobilisasi. Seragam anak sekolah perempuan diganti dari andonbakama (kimono dan hakama) menjadi pakaian Barat yang disebut serafuku (sailor fuku), yakni setelan blus mirip pakaian pelaut dan rok.
                        IX.            Zaman Showa
Semasa perang, pemerintah membagikan pakaian seragam untuk penduduk laki-laki. Pakaian seragam untuk laki-laki disebut kokumin fuku (seragam rakyat). Wanita dipaksa memakai monpei yang berbentuk seperti celana panjang untuk kerja dengan karet di bagian pergelangan kaki.
Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II wanita Jepang mulai kembali mengenakan kimono sebelum akhirnya ditinggalkan karena tuntutan modernisasi. Dibandingan kerumitan memakai kimono, pakaian Barat dianggap lebih praktis sebagai pakaian sehari-hari.
Hingga pertengahan tahun 1960-an, kimono masih banyak dipakai wanita Jepang sebagai pakaian sehari-hari. Pada saat itu, kepopuleran kimono terangkat kembali setelah diperkenalkannya kimono berwarna-warni dari bahan wol. Wanita zaman itu menyukai kimono dari wol sebagai pakaian untuk kesempatan santai.
Setelah kimono tidak lagi populer, pedagang kimono mencoba berbagai macam strategi untuk meningkatkan angka penjualan kimono. Salah satu di antaranya dengan mengeluarkan "peraturan mengenakan kimono" yang disebut yakusoku. Menurut peraturan tersebut, kimono jenis tertentu dikatakan hanya cocok dengan aksesori tertentu. Maksudnya untuk mendikte pembeli agar membeli sebanyak mungkin barang. Strategi tersebut ternyata tidak disukai konsumen, dan minat masyarakat terhadap kimono makin menurun. Walaupun pedagang kimono melakukan promosi besar-besaran, opini "memakai kimono itu ruwet" sudah terbentuk di tengah masyarakat Jepang.
Hingga tahun 1960-an, kimono masih dipakai pria sebagai pakaian santai di rumah. Gambar pria yang mengenakan kimono di rumah masih bisa dilihat dalam berbagai manga terbitan tahun 1970-an. Namun sekarang ini, kimono tidak dikenakan pria sebagai pakaian di rumah, kecuali samue yang dikenakan para perajin.

C.    JENIS KIMONO
1.      Kimono wanita
Pemilihan jenis kimono yang tepat memerlukan pengetahuan mengenai simbolisme dan isyarat terselubung yang dikandung masing-masing jenis kimono. Tingkat formalitas kimono wanita ditentukan oleh pola tenunan dan warna, mulai dari kimono paling formal hingga kimono santai. Berdasarkan jenis kimono yang dipakai, kimono bisa menunjukkan umur pemakai, status perkawinan, dan tingkat formalitas dari acara yang dihadiri.
·         Kurotomesode
Tomesode adalah kimono paling formal untuk wanita yang sudah menikah. Bila berwarna hitam, kimono jenis ini disebut kurotomesode (arti harfiah: tomesode hitam). Kurotomesode memiliki lambang keluarga (kamon) di tiga tempat: 1 di punggung, 2 di dada bagian atas (kanan/kiri), dan 2 bagian belakang lengan (kanan/kiri). Ciri khas kurotomesode adalah motif indah pada suso (bagian bawah sekitar kaki) depan dan belakang. Kurotomesode dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara-acara yang sangat resmi.

Kurotomesode dengan 5 buah lambang keluarga


·         Irotomesode
Tomesode yang dibuat dari kain berwarna disebut irotomesode (arti harfiah: tomesode berwarna). Bergantung kepada tingkat formalitas acara, pemakai bisa memilih jumlah lambang keluarga pada kain kimono, mulai dari satu, tiga, hingga lima buah untuk acara yang sangat formal. Kimono jenis ini dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Kimono jenis irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamu untuk datang memakai kurotomesode, misalnya resepsi di istana kaisar. Sama halnya seperti kurotomesode, ciri khas irotomesode adalah motif indah pada suso.


·         Furisode
Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian kain. Ciri khas furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Furisode dikenakan sewaktu menghadiri upacara seijin shiki, menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda, atau hatsumode. Pakaian pengantin wanita yang disebut hanayome ishō termasuk salah satu jenis furisode.


·         Homongi
Hōmon-gi (訪問着), arti harfiah: baju untuk berkunjung) adalah kimono formal untuk wanita, sudah menikah atau belum menikah. Pemakainya bebas memilih untuk memakai bahan yang bergambar lambang keluarga atau tidak. Ciri khas homongi adalah motif di seluruh bagian kain, depan dan belakang. Homongi dipakai sewaktu menjadi tamu resepsi pernikahan, upacara minum teh, atau merayakan tahun baru.
·         Iromuji
Iromuji adalah kimono semiformal, namun bisa dijadikan kimono formal bila iromuji tersebut memiliki lambang keluarga (kamon). Sesuai dengan tingkat formalitas kimono, lambang keluarga bisa terdapat 1, 3, atau 5 tempat (bagian punggung, bagian lengan, dan bagian dada). Iromoji dibuat dari bahan tidak bermotif dan bahan-bahan berwarna lembut, merah jambu, biru muda, atau kuning muda atau warna-warna lembut. Iromuji dengan lambang keluarga di 5 tempat dapat dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan. Bila menghadiri upacara minum teh, cukup dipakai iromuji dengan satu lambang keluarga.
·         Tsukesage
Tsukesage adalah kimono semiformal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Menurut tingkatan formalitas, kedudukan tsukesage hanya setingkat dibawah homongi. Kimono jenis ini tidak memiliki lambang keluarga. Tsukesage dikenakan untuk menghadiri upacara minum teh yang tidak begitu resmi, pesta pernikahan, pesta resmi, atau merayakan tahun baru.
·         Komon
Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas kimono jenis ini adalah motif sederhana dan berukuran kecil-kecil yang berulang.  Komon dikenakan untuk menghadiri pesta reuni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau menonton pertunjukan di gedung.
·         Tsumugi
Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Walaupun demikian, kimono jenis ini boleh dikenakan untuk keluar rumah seperti ketika berbelanja dan berjalan-jalan. Bahan yang dipakai adalah kain hasil tenunan sederhana dari benang katun atau benang sutra kelas rendah yang tebal dan kasar. Kimono jenis ini tahan lama, dan dulunya dikenakan untuk bekerja di ladang.
·         Yukata
Yukata adalah kimono santai yang dibuat dari kain katun tipis tanpa pelapis untuk kesempatan santai di musim panas.

yukata





2.      Kimono pria
Kimono pria dibuat dari bahan berwarna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam.
·         Kimono paling formal berupa setelan montsuki hitam dengan hakama dan haori
Bagian punggung montsuki dihiasi lambang keluarga pemakai. Setelan montsuki yang dikenakan bersama hakama dan haori merupakan busana pengantin pria tradisional. Setelan ini hanya dikenakan sewaktu menghadiri upacara sangat resmi, misalnya resepsi pemberian penghargaan dari kaisar/pemerintah atau seijin shiki.
·         Kimono santai kinagashi
Pria mengenakan kinagashi sebagai pakaian sehari-hari atau ketika keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Aktor kabuki mengenakannya ketika berlatih. Kimono jenis ini tidak dihiasi dengan lambang keluarga.

D.    MAKNA KIMONO
Bangsa yang besar lahir bukan dari rahim kolonialisme tetapi untuk menjadi bangsa yang besar diperlukan identitas kultural yang mapan dan kuat. Jepang telah membuktikan bahwa bangsa Jepang mempunyai identitas sebagai bangsa yang berkarakter kebangsaan. Salah satunya dapat dilihat dari budaya yang masih dilestarikan hingga sekarang. Misalnya, pakian tradisional kimono menjadi salah satu tren merek Negara Jepang. Begitu orang mendengar kata kimono pasti merujuk pada negara Jepang. Keberhasilan Negara Jepang dalam membangun image kebangsaan telah menjadikan Jepang dikatakan sebagai bangsa yang besar. Nilai kearifan lokal dapat dijumpai dalam pakian tradisional jepang yaitu Kimono. Meskipun anak remaja Jepang sekarang ini sudah jarang mengenakan pakaian Kimono. Kimono masih menjadi unsur penting dalam budaya masyarakat Jepang. Unsur yang menonjol dalam pakaian kimono adalah terletak pada karakter dan corak pakaian kimono yang unik. Keunikan Pakaian kimono dapat dilihat. Pertama, teknik memakai pakian kimono yang tidak semua orang bisa memakainya. Kedua, kimono sebagai simbol penghargaan atas kaum perempuan yang menjaga adat ketimuran yaitu adat yang suka melihat perempuan berpakaian pantas dan sopan di depan umum. Ketiga, kimono memberikan pesan moral bahwa perempuan hendaknya selalu berpakaian yang rapi, sopan dan pantas di depan umum.
Identitas kimono yang tidak bisa terlepas dari bahasa dan budaya Jepang. Seolah-olah telah menghipnotis bangsa lain untuk mengakui identitas kejepangan tanpa harus melakukan jepangisasi bagi rakyatnya. Ekspansi kebudayaan dan bahasa yang mengalir begitu saja telah membawa keberuntuangan tersendiri bagi negara Jepang untuk mempromosikan kebudayaan Jepang secara masif ke seluruh dunia. Sehingga dapat dibayangkan bahwa budaya telah memberikan dampak pada kuatnya identitas suatu bangsa. Dimensi yang menonjol dalam pakian kimono dapat dilihat dari konsistensi model dan karakter pakian kimono yang tidak berubah. Nilai-nilai yang ada dalam pakaian kimono telah melebar menjadi satu dengan realitas masyarakat Jepang seperti kesopanan, kerapian, keteraturan, ketertiban dan kepatuhan masih menjadi nilai-nilai utama dalam masyarakat Jepang secara umum.


E.     AKSESORIS KIMONO
·         Hakama
Hakama adalah celana panjang pria yang dibuat dari bahan berwarna gelap. Celana jenis ini berasal dari daratan Cina dan mulai dikenal sejak zaman Asuka. Selain dikenakan pendeta Shinto, hakama dikenakan pria dan wanita di bidang olahraga bela diri tradisional seperti kendo atau kyudo.
·         Geta
Geta adalah sandal berhak dari kayu. Maiko memakai geta berhak tinggi dan tebal yang disebut pokkuri
·         Kanzashi
Kanzashi adalah hiasan rambut seperti tusuk konde yang disisipkan ke rambut sewaktu memakai kimono.
·         Obi
Obi adalah sabuk dari kain yang dililitkan ke tubuh pemakai sewaktu mengencangkan kimono
·         Tabi
Tabi adalah kaus kaki sepanjang betis yang dipakai sewaktu memakai sandal.
·         Waraji
Waraji adalah sandal dari anyaman tali jerami.
·         Zōri
Zōri adalah sandal tradisional yang dibuat dari kain atau anyaman.




F.     CARA PEMBUATAN KIMONO
Ada beberapa langkah-langkah untuk membuat sebuah kimono, yaitu:
1. Potong empat panel persegi panjang dari kain menggunakan gunting. Mengukur mereka dengan menggunakan penggaris dan meteran. Dua panel harus cukup panjang untuk membentuk bagian tubuh. Panjang dari dua panel masing-masing harus menjadi panjang kimono, yaitu, panjang dari pusat dari bahu ke pergelangan kaki. Lebar untuk kedua panel harus setengah lingkar tubuh pada titik terlebar. Potong dua panel yang lebih kecil untuk lengan. Panjang dan lebar lengan harus diukur sesuai dengan preferensi pribadi dan dipotong sesuai. Lengan kimono dapat menjadi pendek, panjang atau apa pun di antara.

2. Jahit kedua panel yang lebih besar bersama-sama pada sisi panjang sampai sekitar setengah jalan ke jahitan bek tengah. Pada kedua sisi, tandai ruang bahu imajiner dengan pin. Jahit ujung pendek dari panel lengan seperti bahwa jahitannya di bagian bawah lengan. Menggunakan pin, tanda jahitan bahu di sisi berlawanan dari jahitan lengan. Pasang lengan ke bahu dengan cara mencocokkan pin pada ruang bahu imajiner dan pin pada sisi berlawanan dari theseams pada lengan.

3. Potong dua panel yang lebih kecil, satu untuk kerah dan yang lainnya untuk panel depan yang lebih kecil. Panjang panel depan harus panjang kimono dan lebarnya harus 1 / 4 lingkar tubuh. Panel kerah harus cukup panjang untuk menutupi kedua panel di bagian depan. Lebarnya dapat diukur mengingat preferensi pengguna dan dipotong sesuai.

4. Potong panel depan dalam setengah pada sudut yang tajam. Jahit ini di depan pusat untuk memperpanjang lebar depan bawah. Tentukan pusat panel kerah dan menjahit itu, mulai dari panel tubuh kembali dan kemudian meluas ke kedua panel depan. Hal ini juga harus diperluas sepanjang jalan di bagian depan tengah. Jahit jahitan samping dari kimono dari perbatasan sekitar 6 sampai 9 inci dari lengan. Biarkan ketiak kimono untuk tetap terbuka.

















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Pakaian Kimono sebagai pakaian tradisional Jepang memberikan identitas bagi masyarakat Jepang yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal dan adat ketimuran dalam hal ini ada beberapa nilai yang dapat dipelajari dalam pakaian kimono yaitu:
  1. Pakaian kimono menunjukkan konsistensi masyarakat Jepang yang tidak mudah goyah terhadap arus perubahan yang terjadi di era globalisasi sekarang ini.
  2. Nilai kearifan lokal yang menonjol dalam pakian kimono terletak pada karakter dan corak pakaian tersebut. Karakter yang selalu menonojol adalah kerapaian, kebersihan dan kelengkapan membentuk karakter manusia Jepang untuk selalu patuh dan taat pada tradisi lokal.
  3. Pakaian kimono adalah salah satu produk budaya yang berdaya cipta luhur sesuai dengan spirit kejepangan.
  4. Pakaian kimono mempunyai makna filosofis yaitu penghargaan terhadap leluhur dan mecintai keharmonisan.
  5. Pakaian kimono sebagai simbol penghargaan atas kaum perempuan
yang menjaga adat ketimuran yaitu adat yang suka melihat perempuan berpakaian pantas dan sopan di depan umum.
6.      memberikan pesan moral bahwa perempuan hendaknya selalu berpakaian yang rapi sopan dan pantas di depan umum

B.     SARAN
Sebagai pelajar yang mempelajari bahasa dan sastra Jepang, ada baiknya mengetahui dan mempelajari budaya-budaya Jepang salah satunya adalah pakaian-pakaian Jepang  yaitu Kimono. Mengetahui kimono sama artinya mengetahui salah satu kebudayaan Jepang.

DAFTAR PUSTAKA
·         http://Angtika.wordpress.com
·         http://www.google.co.id
·         http://wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar